logo martech  
extra homeinfo hobbyunikpanoramaIndonesiaEnglish
Home
Products
News
Customers/RFQ
About Us
Contact Us
A-Store
 
   
 
 
 
 
 
 
News Martech Indonesia

News:

Selasa, 11 November 2008 | 15:

Walau Permintaan Seret, Produksi Sawit Harus Tetap Berjalan

TEMPO Interaktif, Jakarta: Ketua harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengatakan produksi minyak sawit harus tetap berjalan. Menurutnya meski permintaan menurun, masih ada peluang permintaan.

Derom mengatakan saat ini produksi kelapa sawit tidak bisa ditunda atau dihentikan. Kelapa yang matang harus tetap dipanen untuk disimpan dalam bentuk minyak. "Inilah kelemahannya industri kelapa sawit, inelastis. Tidak boleh buah dibiarkan atau membusuk," ujarnya sewaktu dihubungi Tempo, siang tadi.

Menurut Derom, sawit harus tetap dipanen lantas diubah menjadi minyak sawit untuk disimpan. Jika mutu sawit cukup bagus, maka minyak tersebut bisa disimpan untuk 6-8 bulan. Namun jika mutunya jelek, hanya bertahan 2-3 bulan saja.

Diakui Derom dengan krisis yang menghantam, permintaan minyak sawit turun. Produksi juga sedang turun. Tetapi menurut dia sudah mulai ada permintaan pasar yang mulai berdatangan, meski tidak sebesar semula.

http://tempointeraktif.com/

..............................................................................................................................................

News:

Kamis, 10 April 2008

Shell Pasok Bahan Bakar ke PLN

Jakarta:PT Shell Indonesia melakukan kerja sama operasi dengan PT Kutilang Paksi Mas untuk memasok bahan bakar minyak ke PT PLN (Persero). Bahan bakar tersebut untuk memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Grati, Pasuruan dan Belawan selama tiga tahun.

Kontrak jual beli bahan bakar jenis minyak solar (high speed diesel/HSD) senilai Rp triliun. Jumlah itu terdiri dari Rp 13 triliun untuk pembangkit Grati dan Rp 5,4 triliun untuk Belawan.

Menurut Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, pembelian bahan bakar dari swasta itu merupakan pertama kali yang dilakukan PLN. Sebelumnya, pasokan bahan bakar untuk pembangkit diperoleh dari Pertamina. "Pembelian itu amanah dari rapat umum pemegang saham dan konsekwensi pemberlakuan Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi," ujarnya, Kamis (9/4).

Pembelian bahan bakar dari Shell itu, kata Fahmi, menghemat biaya bahan bakar PLN sebesar Rp 750 miliar. Pengeluaran untuk bahan bakar untuk pembangkit mencapai 70 persen dari total biaya energi primer.

Berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) kebutuhan minyak solar pada tahun ini mencapai enam juta kiloliter per tahun. Sedangkan minyak bakar sebesar tiga juta kiloliter dari Pertamina.

Fahmi mengatakan, saat ini biaya energi primer PLN mencapai Rp 83 triliun. Sedangkan pendapatan dari penjualan listrik Rp 75 triliun. Pemerintah telah menyepakati dengan parlemen untuk mengcurukan subsidi listrik sebesar Rp 60,3 triliun.

Dalam dokumen dengan nomor 333/K/DK/2007, piutang usaha Pertamina kepada PLN dan afiliasinya mencapai Rp 26,16 triliun atau meningkat Rp 13,02 triliun dibanding saldo per 31 Desember 2006 sebesar Rp 13,44 triliun. Dokumen dengan tanggal 29 November 2007 itu menyatakan Dewan Komisaris Pertamina meminta agar direksi Pertamina berkoordinasi dengan Menteri Keuangan dan PLN untuk penyelesaiannya.

Presiden Direktur Shell Indonesia, Darwin Silalahi mengatakan pasokan bahan bakar mulai masuk bulan Mei-Juni mendatang. Bahan bakar tersebut, kata dia, berasal dari kilang-kilang di Singapura, regional dan Asia. Shell memberikan harga minyak solar dengan menggunakan patokan Mid Oil Platts Singapura (MOPS) ditambah 3,35 persen pada tahun pertama dan 3,45 persen pada tahun kedua dan ketiga.

NIEKE INDRIETTA

tempointeraktif.com

.............................................................................................................................................


News:

Jumat, 02 Mei 2008

Indonesia Dorong Sekuritisasi Energi dan Pangan


KUWAIT -- Setelah berdiskusi tiga hari penuh ditambah beberapa sesi pendahuluan, akhirnya 4th WIEF yang digelar di Hotel Sheraton, Kuwait, Kamis (1/5) ditutup. Indonesia, seperti dilaporkan wartawan Republika, Endro Cahyono, mempertegas usulannya agar negara-negara Muslim melakukan penghematan energi dan pangan--dua persoalan yang kini menjadi masalah utama dunia.

Kenaikan harga yang pada mulanya terjadi di negara-negara maju, kini pengaruhnya dirasakan hampir seluruh dunia. Karena itu, Indonesia sangat mendorong pengembangan energi baru yang lebih murah dan bersih, seperti energi surya, angin, gelombang laut, panas bumi, tenaga air dan biofuel.

Ketahanan energi dan pangan yang paling baik, dapat dicapai melalui sekuritisasi. Indonesia menyadari, tidak semua negara Muslim mampu berswasembada energi dan pangan. Karenanya, kerja sama yang saling menguntungkan sesama negara Muslim patut ditingkatkan dalam sebuah kerangka saling mempercayai.

Indonesia sendiri akan meningkatkan upaya-upaya produksi pangan dan energi, dengan menggunakan teknologi tepat guna. Selain itu manajemen sumber daya yang efektif dan kebijakan yang jelas. Indonesia juga menyerukan revitalisasi pengelolaan zakat secara internasional, khususnya zakat keuntungan bisnis minyak bumi dan gas, sebagai salah satu alat dalam redistribusi pendapatan yang ampuh.

''Kini saatnya memainkan peran lebih besar dan penting dalam tatanan ekonomi dunia baru,'' kata Ketua Delegasi Indonesia, Irman Gusman, saat membacakan pidato mewakili Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Diyakini, dana zakat dari keuntungan bisnis minyak bumi dan gas ini amat besar jumlah dan maknanya untuk membantu negara-negara yang terkena pengaruh kenaikan harga energi dan pangan sekaligus, demi mengurangi kemiskinan.

Meski baru berupa wacana, Indonesia juga mengusulkan pembentukan badan usaha milik rakyat (BUMR). Usulan ini, menurut Tanri, dilandasi fakta bahwa rata-rata employement creation di AS dan negara-negara maju lainnya mencapai sekitar 94 persen. Di Indonesia, angkanya bahkan mencapai 99 persen. Ini artinya tulang punggung perusahaan-perusahaan multinasional sebenarnya ditopang oleh usaha kecil dan menengah (SME).

Namun, pada umumnya SME terkendala beberapa hal. Misalnya sumber daya manusianya yang rata-rata hanya berpendidikan rendah, belum bankable, pengelolaan manajemennya terlalu sederhana, skala usahanya teramat kecil sehingga kerap kesulitan melakukan negosiasi, dan terlalu mengandalkan bantuan pemerintah.

''Karena itu saya lemparkan wacana untuk membentuk BUMR, lembaga yang dikelola seperti koperasi yang beranggotakan para pengusaha menengah dan kecil, tapi dikorporasikan dengan payung UU PT sehingga manajemennya menjadi modern dan transparan,'' ujar Tanri.

republika.co.id

.............................................................................................................................................

News:

Jumat, 02 Mei 2008

Enam Perusaahan Asing Siap Gandeng Medco

JAKARTA -- Enam perusahaan asing yang bergerak di sektor minyak, gas dan pertambangan siap menggandeng Grup Medco untuk menggarap proyek gas metana batubara (coal bed methana/CBM). Keenam perusahaan tersebut adalah Itochu Corporation (Jepang), Arrow Energy (Australia), Shell (Belanda), Total E&P Indonesie (Perancis), Marathon Energy (Amerika Serikat), dan Mitshubishi Corporation (Jepang).

''Itochu, Arrow, Mitshubishi, dan Shell tertarik poyek CBM di Sumatra Selatan. Sedangkan Marathon minat di Tarakan, dan Total E&P Indonesie di Kalimantan Timur,'' kata General Manager South & Central Sumatra dan Lematang Asset PT Medco E&P Indonesia Pudjo Suwarno Palembang, Sumatra Selatan, Rabu (30/4) lalu.

Pudjo mengatakan, kerja sama yang akan dijalin Medco dengan enam perusahaan tersebut di luar kerja sama Medco dengan pihak PT Energi Pasir Hitam Indonesia (Ephindo). Konsorsium Medco-Ephindo akan mengembangkan CBM di wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan.

Pihak Medco bersama Ephindo, kata Pudjo, menargetkan bisa mulai melakukan pengeboran 5 sumur CBM di Musi Banyuasin akhir tahun ini. Potensi gas metana batubara yang dapat diproduksi dari wilayah ini, menurutnya, mencapai 0,5 miliar kaki kubik (BCF).

Ia menambahkan, dengan Shell, Medco sudah melakukan studi kelayakan bersama untuk proyek pengembangan CBM di Blok Lematang. Sementara dengan Arrow, sambung dia, pihaknya telah melakukan nota kesepahaman bersama (memorandum of understanding/MoU). ''Khusus Ephindo, kami tinggal menunggu persetujuan kontrak wilayah kerja CBM dari pemerintah. Saat ini keenam perusahaan asing tersebut masih menunggu aturan mengenai bagi hasil CBM,'' ujar Pudjo.

Sementara itu, Pudjo menambahkan, proyek CBM di Lapangan Rambutan (Sumsel) telah dinyatakan berhasil. Saat ini, pihak Medco berencana menggali potensi CBM di Blok Lematang (Sumsel) bersama Lemigas.

Menurut dia, kerja sama di Blok Lematang antara Medco dan Lemigas telah ditindaklanjuti dengan memberikan data room block. Potensi cadangan CBM di Blok Lematang ini sebesar 1 triliun kaki kubik (TCF). Namun, lanjut dia, kepastian lubang galian (drill) di Blok Lematang tergantung pihak Lemigas.

Selain di wilayah Sumatra Selatan, tambah Pudjo, Medco juga berencana mengembangkan potensi CBM yang ada di wilayah kerja Medco di Kalimantan Timur. Sebanyak dua perusahaan asing, kata dia, telah menyatakan minatnya bekerja sama dengan Medco untuk pengembangan CBM di Kalimantan Timur, yakni Marathon Energy dan Total E&P Indonesie. ''Untuk Marathon mereka incar kerja sama CBM di Tarakan. Sedangkan Total mereka mau di area kerja Medco lainnya di Kalimantan Timur,'' ujar dia, menjelaskan.

republika.co.id

   

 

 
Copyright © 2008 Martech Indonesia- Gresik. All rights reserved.